:

Museum Syaikhona Kholil Resmi Dibuka di Bangkalan, Warisan Ulama Pahlawan Nasional Kini Jadi Pusat Edukasi

top-news
https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

BANGKALAN I MaduraNetwork.id – Di sebuah sudut Jalan Moh. Toha, kawasan Pondok Jangkebuan, Kota Bangkalan, sejarah menemukan ruang baru untuk berbicara. Selasa (14/7), sebuah museum yang didedikasikan untuk mengenang perjalanan hidup dan perjuangan KH Syaikhona Moh. Kholil bin Abdul Latief resmi dibuka. Bukan sekadar tempat menyimpan benda-benda lama, museum itu lahir dari ikhtiar para dzuriyah (keturunan) sang ulama besar untuk merawat ingatan kolektif tentang sosok yang jejak pemikirannya melampaui batas Madura.

 

Gagasan mendirikan museum muncul setelah KH Syaikhona Kholil dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Bagi keluarga dan para muridnya, pengakuan negara itu bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar: memastikan nilai-nilai perjuangan, keilmuan, dan nasionalisme sang ulama tetap hidup di tengah generasi yang tumbuh di era digital.

 

Peresmian museum berlangsung khidmat. Sejumlah tokoh agama, budayawan, sejarawan, dan pejabat daerah hadir menyaksikan momentum tersebut. Di antaranya sejarawan Bangkalan RP Abdul Hamid Mustari, KH Syafik Rofii, KH Muhammad, Ketua PCNU Bangkalan KH Mohammad Makki Nasir, serta perwakilan Pemerintah Kabupaten Bangkalan.

 

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang berhalangan hadir diwakili Kepala Perpustakaan Provinsi Jawa Timur, Tiat S. Suwandi. Beberapa kepala organisasi perangkat daerah, termasuk dari Dinas Perhubungan, Dinas Perpustakaan, dan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP), turut menghadiri acara tersebut.

 

Dalam sambutannya, Ketua PCNU Bangkalan KH Mohammad Makki Nasir menilai sosok Syaikhona Kholil bukan hanya ulama besar yang melahirkan banyak tokoh bangsa, tetapi juga figur yang memiliki semangat kebangsaan kuat.

 

Menurutnya, tantangan saat ini bukan lagi sekadar mengenang nama besar Syaikhona Kholil, melainkan menghadirkan keteladanan beliau kepada generasi muda melalui cara-cara yang relevan dengan perkembangan zaman.

 

"Bagaimana sosok seperti beliau bisa diketahui dan dicontoh oleh generasi muda yang kini memasuki era digitalisasi," ujar Kiai Makki.

 


Pandangan serupa disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bangkalan melalui Kepala Bidang Kebudayaan, Hendra. Ia menegaskan museum memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar ruang penyimpanan koleksi sejarah.

 

Menurut Hendra, museum merupakan jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini sekaligus menjadi ruang pembentukan identitas bangsa. Keberadaannya penting untuk menjaga memori kolektif serta memperkenalkan warisan peradaban kepada masyarakat secara lebih dekat.

 

Ia juga mengaitkan pendirian Museum Syaikhona Kholil dengan kebijakan nasional di bidang kebudayaan, yang mendorong lahirnya semakin banyak museum sebagai pusat edukasi publik. Pemerintah, kata dia, ingin masyarakat menjadikan museum sebagai bagian dari proses pembelajaran generasi muda.

 

Sementara itu, Ketua Panitia sekaligus pengelola museum, KH Syamsudin Kholili, menjelaskan bahwa pendirian museum berangkat dari semangat yang selama ini diwariskan Syaikhona Kholil, yakni Hubbul Wathan Minal Iman—cinta tanah air sebagai bagian dari iman.

 

Di dalam museum, pengunjung dapat menelusuri berbagai jejak kehidupan sang ulama melalui manuskrip, dokumentasi, hingga berbagai peninggalan yang menggambarkan perjalanan dakwah, pendidikan, serta pengabdiannya kepada masyarakat.

 

"Di sini kami menampilkan jejak-jejak dan napak tilas beliau. Beliau adalah sosok yang penuh kesabaran, gigih dalam pendidikan, perjuangan, melayani masyarakat, dan berdakwah," ujar KH Syamsudin.

 

Ia berharap museum tidak hanya menjadi destinasi sejarah, tetapi juga menjadi pusat rujukan akademik bagi peneliti, pelajar, maupun masyarakat yang ingin memahami lebih dalam pemikiran dan kontribusi Syaikhona Kholil terhadap perkembangan Islam dan kebangsaan di Indonesia.

 

Peresmian museum ditandai dengan pengguntingan pita oleh Ketua PCNU Bangkalan KH Mohammad Makki Nasir bersama Kepala Perpustakaan Provinsi Jawa Timur Tiat S. Suwandi, KH Syafik Rofii, dan Kepala Bidang Kebudayaan Hendra. Tepuk tangan para undangan mengiringi terbukanya pintu museum, menandai dimulainya ikhtiar baru untuk menjaga warisan seorang ulama yang pengaruhnya telah melintasi ruang dan waktu.

 

https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *