Museum Syaikhona Kholil Resmi Dibuka di Bangkalan, Warisan Ulama Pahlawan Nasional Kini Jadi Pusat Edukasi
- Rusli Djunaidi
- 14 Jul, 2026
BANGKALAN I MaduraNetwork.id – Di sebuah sudut Jalan Moh. Toha, kawasan Pondok Jangkebuan, Kota Bangkalan, sejarah menemukan ruang baru untuk berbicara. Selasa (14/7), sebuah museum yang didedikasikan untuk mengenang perjalanan hidup dan perjuangan KH Syaikhona Moh. Kholil bin Abdul Latief resmi dibuka. Bukan sekadar tempat menyimpan benda-benda lama, museum itu lahir dari ikhtiar para dzuriyah (keturunan) sang ulama besar untuk merawat ingatan kolektif tentang sosok yang jejak pemikirannya melampaui batas Madura.
Gagasan mendirikan museum muncul setelah KH
Syaikhona Kholil dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Bagi keluarga dan para
muridnya, pengakuan negara itu bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung
jawab yang lebih besar: memastikan nilai-nilai perjuangan, keilmuan, dan nasionalisme
sang ulama tetap hidup di tengah generasi yang tumbuh di era digital.
Peresmian museum berlangsung khidmat. Sejumlah
tokoh agama, budayawan, sejarawan, dan pejabat daerah hadir menyaksikan
momentum tersebut. Di antaranya sejarawan Bangkalan RP Abdul Hamid Mustari, KH
Syafik Rofii, KH Muhammad, Ketua PCNU Bangkalan KH Mohammad Makki Nasir, serta
perwakilan Pemerintah Kabupaten Bangkalan.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang
berhalangan hadir diwakili Kepala Perpustakaan Provinsi Jawa Timur, Tiat S.
Suwandi. Beberapa kepala organisasi perangkat daerah, termasuk dari Dinas
Perhubungan, Dinas Perpustakaan, dan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan
Permukiman (PRKP), turut menghadiri acara tersebut.
Dalam sambutannya, Ketua PCNU Bangkalan KH Mohammad
Makki Nasir menilai sosok Syaikhona Kholil bukan hanya ulama besar yang
melahirkan banyak tokoh bangsa, tetapi juga figur yang memiliki semangat
kebangsaan kuat.
Menurutnya, tantangan saat ini bukan lagi sekadar
mengenang nama besar Syaikhona Kholil, melainkan menghadirkan keteladanan
beliau kepada generasi muda melalui cara-cara yang relevan dengan perkembangan
zaman.
"Bagaimana sosok seperti beliau bisa diketahui
dan dicontoh oleh generasi muda yang kini memasuki era digitalisasi," ujar
Kiai Makki.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Dinas
Pariwisata dan Kebudayaan Bangkalan melalui Kepala Bidang Kebudayaan, Hendra.
Ia menegaskan museum memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar
ruang penyimpanan koleksi sejarah.
Menurut Hendra, museum merupakan jembatan yang
menghubungkan masa lalu dengan masa kini sekaligus menjadi ruang pembentukan
identitas bangsa. Keberadaannya penting untuk menjaga memori kolektif serta
memperkenalkan warisan peradaban kepada masyarakat secara lebih dekat.
Ia juga mengaitkan pendirian Museum Syaikhona
Kholil dengan kebijakan nasional di bidang kebudayaan, yang mendorong lahirnya
semakin banyak museum sebagai pusat edukasi publik. Pemerintah, kata dia, ingin
masyarakat menjadikan museum sebagai bagian dari proses pembelajaran generasi
muda.
Sementara itu, Ketua Panitia sekaligus pengelola
museum, KH Syamsudin Kholili, menjelaskan bahwa pendirian museum berangkat dari
semangat yang selama ini diwariskan Syaikhona Kholil, yakni Hubbul Wathan
Minal Iman—cinta tanah air sebagai bagian dari iman.
Di dalam museum, pengunjung dapat menelusuri
berbagai jejak kehidupan sang ulama melalui manuskrip, dokumentasi, hingga
berbagai peninggalan yang menggambarkan perjalanan dakwah, pendidikan, serta
pengabdiannya kepada masyarakat.
"Di sini kami menampilkan jejak-jejak dan
napak tilas beliau. Beliau adalah sosok yang penuh kesabaran, gigih dalam
pendidikan, perjuangan, melayani masyarakat, dan berdakwah," ujar KH
Syamsudin.
Ia berharap museum tidak hanya menjadi destinasi
sejarah, tetapi juga menjadi pusat rujukan akademik bagi peneliti, pelajar,
maupun masyarakat yang ingin memahami lebih dalam pemikiran dan kontribusi
Syaikhona Kholil terhadap perkembangan Islam dan kebangsaan di Indonesia.
Peresmian museum ditandai dengan pengguntingan pita
oleh Ketua PCNU Bangkalan KH Mohammad Makki Nasir bersama Kepala Perpustakaan
Provinsi Jawa Timur Tiat S. Suwandi, KH Syafik Rofii, dan Kepala Bidang
Kebudayaan Hendra. Tepuk tangan para undangan mengiringi terbukanya pintu
museum, menandai dimulainya ikhtiar baru untuk menjaga warisan seorang ulama
yang pengaruhnya telah melintasi ruang dan waktu.
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *


